Pelunasan Biaya Haji 2018 Tahap Pertama Mulai 3 April

Pelunasan Biaya Haji 2018 Tahap Pertama Mulai 3 April

Besaran biaya rata-rata BPIH reguler sebesar Rp35.235.290,00 telah disetujui oleh DPR dan Kemenag beberapa waktu lalu. Menurut Kepala Sub Direktorat Pendaftaran dan Pembatalan Haji Reguler, Noer Alya Fitra (Nafit), pihaknya saat ini menunggu penetapan BPIH tiap embarkasi dalam Keputusan Presiden yang diharapkan segera terbit bulan ini.

Pelunasan Biaya Haji 2018 Tahap Pertama Mulai 3 April
Pelunasan Biaya Haji 2018 Tahap Pertama Mulai 3 April

Dalam rilis tersebut dijelaskan bahwa pelunasan BPIH regular terdiri dari dua tahap. Pelunasan tahap kesatu pada tanggal 3-20 April 2018, sedangkan pelunasan tahap kedua dilaksanakan pada hari kerja pada tanggal 8-18 Mei 2018. Masing-masing tahapannya diperuntukkan bagi Jemaah dengan ketentuan yang telah diatur dengan jelas.

Tahap kesatu diperuntukkan bagi :

  • Jemaah Haji yang telah melakukan pelunasan BPIH tahun 1438H/2017M atau tahun sebelumnya, yang menunda keberangkatan;
  • Jemaah haji yang masuk dalam kuota haji tahun 1439H/2018M yang belum pernah berhaji dan telah berusia 18 tahun atau sudah menikah.

Sedangkan pelunasan tahap kedua diperuntukkan bagi:

  • Jemaah Haji yang mengalami kegagalan sistem pada pelunasan BPIH tahap kesatu yang berstatus pernah berhaji yang telah berusia 18 tahun atau sudah menikah;
  • Jemaah Haji yang mengajukan penggabungan suami/istri atau anak kandung/orang tua terpisah yang salah satunya telah melunasi di tahap kesatu;
  • Jemaah Haji yang mengajukan percepatan karena lanjut usia minimal 75 tahun yang dapat disertai dengan 1 (satu) orang pendamping;
  • Jemaah haji cadangan yang berasal dari Jemaah Haji yang berhak lunas tahun 1440H/2019M sebanyak 5%.

Sementara untuk pengajuan percepatan pemberangkatan haji, diatur ketentuan sebagai berikut:

  1. Jemaah yang mengajukan penggabungan suami/istri atau anak kandung/orang tua terpisah harus telah memiliki nomor porsi haji reguler dan mendaftar sebelum tanggal 1 Januari 2016;
  2. Jemaah yang mengajukan lanjut usia minimal 75 tahun dan pendampingnya harus telah memiliki nomor porsi haji reguler dan mendaftar sebelum tanggal 1 Januari 2016. Pendamping Jemaah Haji lanjut usia adalah suami/istri/anak kandung/adik kandung dari jemaah yang bersangkutan;
  3. Surat permohonan percepatan pemberangkatan disampaikan ke Kantor Kementerian Agama Kab/Kota tempat mendaftar haji reguler, dilampiri dengan bukti pendukung yang valid dan relevan, serta akan diinput dalam aplikasi Siskohat;
  4. Penentuan keberangkatan Jemaah Haji tergantung dari sisa kuota pada masing-masing provinsi/kab/kota yang diambil berdasarkan urutan nomor pendaftaran atau nomor porsi.

Cara Daftar Haji Reguler

Cara Daftar Haji Reguler

Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang termasuk ke dalam rukun Islam. Dalam rukun Islam, ibadah haji ini menempati urutan ke lima. Ibadah haji ini merupakan ibadah yang wajib dilakuka oleh kaum muslim yang sudah mampu. Dalam hal ini, mampu tidak diartikan sebagai mampu dalma hal materi saja, tapi juga mampu dalam segala hal seperti keilmuan, fisik, maupun mental.

Ibadah haji menjadi ibadah ang paling diidam-idamkan oleh semua kaum muslim. Bagaimana tidak? Hanya denganibadah haji kita bisa berdoa, shalat di depan kabah. Tempat suci kaum muslim. Tempat diijabahnya segala doa. Inilah alasan mengapa banyak kaum muslim yang berbondong-bondong untuk pergi berhaji.

Ibadah haji memiliki dua jalur, yaitu jalur reguler dan jalur khusus (ONH Plus). Keduanya sama-sama melalui Kementerian Agama RI, namun keduanya memiliki beberapa perbedaan, seperti biaya, lama  pelaksanaan, fasilitas, serta daftar tunggu. Mereka yang menggunakan ONH Plus umumnya memiliki daftar tunggu yang relative lebih sebentar dibandingkan dengan yang reguler.

Alur Pendaftaran Ibadah Haji Reguler

Alur Pendaftaran Haji Reguler
Alur Pendaftaran Haji Reguler
  1. Calon jemaah haji membuka rekening di bank yang telah ditunjuk pemerintah dengan setoran awal sebesar Rp 25 juta.
  2. Calon jemaah haji kemudian membawa buku tabungan ke kantor Kemenag kabupaten/kota domisili.
  3. Calon jemaah membawa syarat-syarat seperti KTP, Surat Keterangan Sehat, Copy KK, buku nikah atau ijazah.
  4. Sesampainya di kantor Kemenag, lakukan pendaftaran dengan mengisi SPPH (Surat Permohonan Pergi haji), kemudian SPPH bawa ke BPS-BPIH.
  5. Sesampainya di BPS-BPIH, serahkan SPPH. BPS-BPIH akan langsung mendebet rekening jemaah.
  6. BPS-BPIH akan memberikan bukti setoran berupa printout hari itu juga. Di dalam bukti tersebut akan terlihat Nomor Porsi.
  7. Bawa bukti printout tersebut ke kantor Kemenag untuk kembali melakukan registrasi.
  8. Esok harinya calon jemaah dapat melihat tahun keberangkatan dengan memasukkan Nomor Porsi di situs www.haji.kemenag.go.id.
  9. Jika terjadi error, hubungi bagian Pendaftaran Haji Kemenag Pusat.
  10. Besaran BPIH akan diterbitkan melalui kepres setelah dilakukan pembahasan dan disahkan oleh DPR.
  11. BPIH akan diumumkan di berbagai media.
  12. Nama-nama jemaah yang harus melunasi biaya haji akan diumumkan di situs

Cara Memperoleh Haji Mabrur

Doa Haji Mabrur

Haji Mabrur adalah dambaan bagi semua orang muslim. Haji Mabrur adalah haji yang sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh Rosulullohi SAW. Didalam hadits Bukhori Kitabu Haji, Rosululloh bersabda bahwa Balasan yang paling pantas bagi Haji Mabrur adalah Syurga. Berikut ini beberapa tanda atau indikator apabila haji seorang muslim adalah termasuk Haji Mabrur :

Cara Haji Mabrur
Cara Haji Mabrur

I. Indikator Saat Ibadah Haji

  • Motivasi atau niat Ibadah Haji, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
  • Proses pelaksanaan sesuai dengan contoh ibadah Rasulullah saw. dimana syarat, rukun wajib (bahkan sunat) ibadah tersebut terpenuhi.
  • Biaya untuk ibadah tersebut diperoleh dengan cara yang halal.
  • Dampak dari ibadah haji positif bagi pelakunya, yaitu adanya perubahan kualitas perilaku ke arah yang lebih baik dan lebih terpuji.
Cara Mendapatkan Haji Mabrur
Cara Mendapatkan Haji Mabrur

II. Indikator Setelah Ibadah Haji

  • Patuh melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, patuh melaksanakan sholat, konsekuen membayar zakat, sungguh-sungguh membangun keluarga sakinah mawaddah dan wa rahmah, selalu rukun dengan sesama umat manusia, sayang kepada sesama makhluk Allah SWT.
  • Konsekuen meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT, terutama dosa-dosa besar, seperti syirik, riba, judi, zina, khamr, korupsi, membunuh orang, bunuh diri, bertengkar, menyakiti orang lain, khurafat, bidah dsb.
  • Gemar melakukan ibadah wajib, sunat dan amal shalih lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat.
  • Aktif berkiprah dalam memperjuangkan, mendawahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar maruf dengan cara yang maruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara munkar.
  • Memiliki sifat dan sikap terpuji seperti sabar, syukur, tawakkal, tasamuh, pemaaf, tawadlu dsb.
  • Malu kepada Allah SWT utk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya.
  • Semangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu Islam.
  • Bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya dan dalam rangka membantu orang lain serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain.
  • Cepat melakukan taubat apabila terlanjur melakukan kesalahan dan dosa, tidak membiasakan diri proaktif dengan perbuatan dosa, tidak mempertontonkan dosa dan tidak betah dalam setiap aktivitas berdosa.
  • Sungguh-sungguh memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk menolong orang lain dan menegakkan Izzul Islam wal Muslimin.

Tanda-Tanda Haji Mabrur

Tanda Tanda Haji Mabrur
Balasan Pahala Haji Mabrur
Balasan Pahala Haji Mabrur

Kata mabrur dalam bahasa Arab berasal dari kata barra-yaburrubarran dan bermakna taat berbakti. Dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap karangan Ahmad Warson Munawwir mabrur dijelaskan terkait dengan kata-kata albirru yang maknanya adalah ketaatan, kesalehan, atau kebaikan.

Haji mabrur berarti mempunyai kebaikan yang melimpah ruah, baik bagi pelaku haji tersebut maupun bagi orang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan haji. Misalnya, orang yang tidak berangkat haji, berkeinginan untuk berangkat, menitip doa, mengunjungi orang yang berangkat dan pulang haji, mengantar dan mendoakannya, kesemuanya itu akan peroleh kebaikan.

Dengan demikian, kemabruran haji tersebut tidak hanya pada pelakunya, akan tetapi prosesi haji memang dapat mendatangkan kebaikan semua orang. Di sinilah salah satu keunikan ibadah haji dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya.

Sementara itu, pendapat para ulama mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur ria (sombong). Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.

Ibadadah Haji Mabrur
Ibadadah Haji Mabrur

Jika telah dipahami apa yang dimaksudkan dengan haji mabrur, orang yang berhasil menggapai predikat tersebut akan mendapatkan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wassalam, “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (H.R. Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 1349).

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan, ia memang pantas untuk masuk surga.”

Meskipun pada hakikatnya, hanya Allah-lah yang menentukan dan mengetahui apakah diterima dan tidaknya haji yang kita tunaikan. Namun, melalui penjelasan yang bersumber dari Rasulullah saw., setidaknya menjadi penguat bagi kita untuk lebih berharap kepada Alah Swt. agar ibadah haji yang kita tunaikan menjadi haji mabrur.

Petunjuk Rasulullah saw, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-Nya dalam menggapai haji mabrur, antara lain:

1. Tunaikanlah ibadah haji dengan benar-benar berangkat dari motivasi dan niat yang ikhlas karena Allah Swt. Kedudukan niat dalam setiap ibadah dalam Islam menempati posisi yang sangat penting, bahkan niat menjadi penilaian dari setiap arah dan tujuah ibadah yang kita tunaikan. Penegasan niat di atas dikuatkan lagi oleh Rasulullah saw., yang dijelaskan dalam sabdanya: “Sesungguh setiap perbuatan tergantung dari niatnya dan masing-masing mendapat pahala dari niatnya itu.” (Muttafaq’ Alaihi).
Oleh karena haji harus benar-benar diniatkan karena Allah Swt. Apalagi haji ini, sangat sarat dengan perasaan ria (sombong) dan sumah (senang mendapat pujian), mengingat tidak semua orang dapat menunaikan ibadah ini, seperti halnya ibadah-ibadah lainnya.

2. Segala biaya dan nafkah yang digunakan untuk menunaikan ibadah haji haruslah benar-benar bersumber dari yang halal. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah saw.: ”Jika seseorang pergi menunaikan haji dengan biaya dari harta yang halal dan kemudian diucapkannya, Labbaikallaahumma labbaik ( ya Allah, inilah aku datang memenuhi panggilan-Mu). Maka berkata penyeru dari langit: “Allah menyambut dan menerima kedatanganmu dan semoga kamu berbahagia. Pembekalanmu halal, pengangkutanmu juga halal, maka hajimu mabrur, tidak dicampuri dosa.”
Sebaliknya, jika ia pergi dengan harta yang haram, dan ia mengucapkan: Labbaik. Maka penyeru dari langit berseru: Tidak diterima kunjunganmu dan engkau tidak berbahagia. Pembekalanmu haram, pembelanjaanmu juga haram, maka hajimu ma’zur (mendatangkan dosa) atau tidak diterima.” (H.R. Tabrani).

3. Melakukan manasik hajinya dengan meneladani dan mempedomani manasik haji Rasulullah saw. Ini sudah pasti dan dapat dipahami karena ibadah haji merupakan ibadah mahdah yang cara pelaksanaanya mutlak harus mempedomani Rasulullah saw.

4. Ibadah haji yang ditunaikan harus mampumemperbaiki akhlak dan tingkah laku. Sesudah kembali dari Tanah Suci, dan dapat menyelesaikan manasik hajinya secara sempurna, mulai dari berihram di maiqat yang telah ditentukan, tawaf di keliling baitullah, sai antara Safa dan Marwah, wuquf di Arafah, mabit di Muzdalifa. Melontar jumrah dan bermalan di Mina, tawaf ifadah dan akhirnya tawaf wada ketika kembali ke Tanah Air, sesuai dengan kitabullah dan petunjuk Rasulullah saw. (tidak rafats, tidak fusuq dan tidak bertengkar/bermusuhan), maka itu semua menjadi sarana untuk merefungsionalisasikan tujuan hidup kita agar kembali kepada fitrah yang sebenarnya, yakni menjadi manusia yang memiliki akhlak yang terpuji.

Kita harus mengingat bahwa tujuan ibadah dalam Islam, tidak terkecuali ibadah haji adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Upaya pendekatan ini sekaligus menyucikan jiwa kita menjadi jiwa bersih sehingga dengan jiwa yang bersih ini melahirkan perilaku dan akhlak yang mulia (manusia sejati). Ibadah haji yang membentuk perilaku akhlak terpuji dan mulia ini diukur dengan peningkatan amal-amal kebajikan yang kita lakukan, baik terhadap Allah Swt. secara vertikal dan hubungan sesama manusia secara horizontal.

Tidak satu pun di antara kita yang menginginkan setiap ibadah yang kita lakukan tidak diterima Allah Swt. Pelaksanaan ibadah haji merupakan pelaksanaan yang memerlukan kesanggupan yang lebih besar daripada ibadah lainnya dalam sistem ajaran Islam.

Ka'bah Haji Mabrur
Ka’bah Haji Mabrur

Di samping ibadah ini merupakan ibadah yang berdimensi spiritualitas yang tinggi, juga sangat sarat dengan nilai-nilai sejarah dalam tradisi kenabian yang mengagungkan. Dengan berangkat dari niat yang suci dan ikhlas semata-mata berharap rida Allah Swt., dengan biaya haji yang halal, mengikuti manasik haji yang dipraktikkan Rasul saw. dan menghiasi dirinya dengan amal-amal saleh dan akhlakul karimah, merupakan indikator ibadah haji diterima Allah Swt. Semoga.

Setidaknya ada tiga ciri haji mabrur, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw., yakni: pertama, ayyakuna tibil kalam (supaya setelah haji omongannya enak, manis, menyenangkan, nggak menyakiti orang).

Kedua, ifsaus salam (suka damai). Jadi, orang yang telah berhaji itu seharusnya tidak suka bertengkar, apalagi masalah sepele. Ia lebih menyukai perdamaian.

Ketiga, itamuth tha’am, sosialnya semakin tinggi karena memberi makan masyarakat. Jadi, kalau sudah haji masih pelit, koret, bakhil, berarti hajinya belum atau tidak mabrur.

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu (r.a.), ia berkata,
Nabi sallallahu alaihi wassalam ditanya, Amalan apa yang paling afdal? Beliau sallallahu alaihi wassalam menjawab, Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ada yang bertanya lagi, Kemudian apa lagi? Beliau sallallahu alaihi wassalam menjawab, Jihad di jalan Allah.

Ada yang bertanya kembali, Kemudian apa lagi?
Haji mabrur, jawab Nabi sallallahu alaihi wassalam. (H.R. Bukhari No. 1519)
Dari Aisyah—ummul Mukminin—radiallahu anhu, ia berkata,
Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdal. Apakah berarti kami harus berjihad?
Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur, jawab Nabi sallallahu alaihi wassalam.” (H.R. Bukhari No. 1520)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi sallallahu alaihi wassalam bersabda,
“Siapa yang berhaji ke Kakbah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (H.R. Bukhari No. 1521).

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, Haji disebut jihad karena di dalam amalan tersebut terdapat mujahadah (jihad) terhadap jiwa.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, Haji dan umrah termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa, dan badan.
Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam salat, terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya dengan puasa. Dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdal’.

Pengertian Haji

Haji Ka'bah Thawaf

Haji adalah salah satu rukun Islam yang lima. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan bagi kaum muslim yang mampu secara material, fisik, maupun keilmuan dengan berkunjung ke beberapa tempat di Arab Saudi dan melaksanakan beberapa kegiatan pada satu waktu yang telah ditentukan yaitu pada bulan Dzulhijjah. Haji merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup yaitu orang Muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan, dan dapat mendukung keluarga mereka selama ketidakhadiran mereka.

Haji
Haji

Secara estimologi (bahasa), Haji berarti niat (Al Qasdu), sedangkan menurut syara’ berarti Niat menuju Baitul Haram dengan amal-amal yang khusus.Temat-tempat tertentu yang dimaksud dalam definisi diatas adalah selain Ka’bah dan Mas’a (tempat sa’i), juga Padang Arafah (tempat wukuf), Muzdalifah (tempat mabit), dan Mina (tempat melontar jumroh).

Haji Ka'bah
Haji Ka’bah

Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tertentu adalah bulan-bulan haji yaitu dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan ibadah tertentu ialah thawaf, sa’i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumroh, dan mabit di Mina.

Thawaf Haji
Haji Thawaf

Haji adalah pertemuan tahunan terbesar orang-orang di dunia. Keadaan yang secara fisik dan finansial mampu melakukan ibadah haji disebut istita’ah, dan seorang Muslim yang memenuhi syarat ini disebut mustati. Kata Haji berarti “berniat melakukan perjalanan”, yang berkonotasi baik tindakan luar dari perjalanan dan tindakan ke dalam niat.

Haji Masjidil Haram
Haji Masjidil Haram